Bagaimana Kinerja Pelindo Port Indonesia Pasca Merger?

Pelindo port Indonesia yang merupakan PT pelabuhan milik negara tercatat menjadi salah satu BUMN dengan laba yang meningkat tajam. Kinerja yang moncer tersebut ternyata terjadi setelah dilakukan merger beberapa tahun sebelumnya.

Informasi dari berbagai sumber disebutkan bahwa laba yang dicatatkan oleh Pelindo port Indonesia mencapai Rp3,2 Triliun pada tahun 2021 lalu. Jumlah itu cukup signifikan meningkat bila dibandingkan dengan total laba setahun sebelumnya, yakni 2021 lalu yaitu sekitar Rp3 triliun.

Hasilnya adalah, terjadi peningkatan laba BUMN di tahun 2021 lalu yang naik hingga 869% bila dibandingkan tahun 2020. Total laba bersih dari BUMN di tahun 2021 ialah Rp126 triliun. Hal ini yang dianggap menjadi salah satu dampak positif dari merger Pelindo di tahun 2021 lalu.

Pelindo port Indonesia menjalankan program merger pada tahun 2021, tepatnya 2021 lalu. Hasilnya langsung nyata, di mana pendapatan usaha Pelindo mencapai Rp28,8 triliun. Angka tersebut cukup jauh meningkat dari tahun 2020 sebelum program merger dilakukan.

Masih di tahun 2021, Pelindo juga menyetorkan deviden, konsesi, PPh, PPn, PBB, PNBP, dan sebagainya dengan total Rp4,7 Triliun. Sebenarnya, apa saja yang meningkat dari kinerja Pelindo port Indonesia pasca merger sehingga bisa begitu meningkat kinerjanya tersebut?

Ternyata, fokus utama dari Pelindo setelah merger itu adalah melakukan transformasi operasional di kluster petikemas. Hal itu dilakukan dengan cara melakukan sejumlah standarisasi serta sistemisasi pelabuhan. Hal itu terbukti moncer, karena hasilnya bahkan langsung terasa ketika telah 8 bulan berlalu pasca merger tersebut.

Peningkatan tersebut terlihat dengan meningkatnya produktivitas di beberapa pelabuhan Pelindo. Peningkatan tersebut terjadi baik untuk produktivitas bongkar muat, maupun pengurangan waktu sandar kapal di pelabuhan. Sekadar informasi, bongkar muat diukur dengan satuan BSH (boks per kapal per jam), sedangkan waktu sandar (port stay) diukur dengan jumlah harinya.

Misalnya untuk contoh, di Terminal Peti Kemas Belawan. Jumlah bongkar muat di pelabuhan meningkat menjadi 45 BSH, sebelumnya hanya sekitar 20 BSH. Itu berarti peningkatan terjadi hingga lebih dari dua kali lipat. Waktu sandar kapal juga dari biasanya dua hari menjadi berkurang hingga 1 hari saja, karena kecepatan bongkar muat meningkat tajam.

Contoh lainnya terjadi di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Ambon, di mana jumlah bongkar muat meningkat dari 12 BSH di tahun 2020 menjadi 35 BSH di tahun 2021. Tentunya, hal itu juga membuat kecepatan bongkar muat ikut berkurang drastis, dari biasanya 3 hari, menjadi tinggal 1 hari saja.

Contoh lainnya terjadi Terminal Peti Kemas Makassar. Dengan meningkatnya kecepatan bongkar muat di pelabuhan, jumlah bongkar muat meningkat lebih dari dua kali lipat. Sebelumnya, di tahun 2020, rata-rata bongkar muat hanya sekitar 20 BSH, sekarang menjadi 42 BSH. Waktu sandar berkurang menjadi 1 hari, dari sebelumnya rata-rata 2 hari.

Tentunya, peningkatan kecepatan bongkar muat ini menjadikan pengguna jasa menjadi lebih puas dan nyaman. Karena itu, pelayanan yang meningkat di pelabuhan juga akan sangat mendukung bagi bisnis Anda yang menjadi lebih cepat dan menguntungkan, serta efektif dan efisien.

Previous Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.